Oleh : Dr. Mochammad Farisi, LL.M
Tahun 2025 akan dikenang sebagai tahun konsolidasi politik di Jambi. Pilkada telah usai, kepala daerah dilantik, dan hiruk pikuk kompetisi perlahan menghilang. Namun politik tidak berhenti; ia justru bergerak dalam bentuk yang lebih sunyi, lebih pelan, dan sering kali lebih menentukan. Janji mulai diuji, kekuasaan dirapikan, dan publik perlahan membangun standar baru dalam menilai kepemimpinan daerahnya.
Kaleidoskop Politik Jambi 2025 hadir sebagai catatan tahunan—bukan laporan kinerja pemerintah, bukan pula panggung promosi atau kritik satu rezim. Tulisan ini merekam peristiwa, kebijakan, konflik, serta respons publik yang membentuk wajah politik daerah sepanjang tahun.
Sebuah jejak digital, agar suatu hari nanti, ketika publik menoleh ke belakang, mereka memahami bahwa 2025 adalah tahun ketika politik berjalan senyap, tetapi sarat makna.
Konteks Awal Tahun Politik 2025 di Jambi: Pelantikan, PSU, dan Konsolidasi Kekuasaan
Tahun politik 2025 di Jambi dibuka dengan satu fase penting: transisi kekuasaan pasca-Pilkada serentak. Pada Februari 2025, sebagian besar kepala daerah hasil pemilihan dilantik dalam satu momentum nasional yang sarat simbol konsolidasi. Namun, pelantikan itu tidak sepenuhnya berjalan serentak. Kabupaten Bungo menjadi pengecualian, menyusul adanya Pemungutan Suara Ulang (PSU) akibat sengketa hasil Pilkada yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Konfigurasi kepemimpinan baru di tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Al Haris–Abdullah Sani kembali dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi. Di tingkat daerah, dilantik pula Maulana–Diza Hazra Aljosha sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jambi; Anwar Sadat–Katamso di Kabupaten Tanjung Jabung Barat; M. Fadhil–Bakhtiar di Kabupaten Batanghari; Dillah Hikmah Sari–Muslimin Tanja di Kabupaten Tanjung Jabung Timur; Agus Rubiyanto–Nazar di Kabupaten Tebo; Bambang Bayu Suseno–Junaidi Mahir di Kabupaten Muaro Jambi; Alfin–Azhar Hamzah di Kota Sungai Penuh; Monadi–Murison di Kabupaten Kerinci; M. Syukur–A. Khafidh di Kabupaten Merangin; serta Hurmin–Gerry Tri Satwika di Kabupaten Sarolangun.
Sementara itu, Kabupaten Bungo baru melengkapi kepemimpinan definitifnya beberapa bulan kemudian. Setelah PSU dilaksanakan dan proses hukum tuntas, Dedy Putra–Tri Wahyu Hidayat akhirnya dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bungo.
Bersamaan dengan pelantikan, dimulai pula fase rekonsiliasi politik daerah. Kompetisi elektoral ditutup, namun pekerjaan merajut kembali hubungan politik, birokrasi, dan sosial justru baru dimulai. Kepala daerah dihadapkan pada tantangan klasik awal masa jabatan: menyatukan barisan, menata ulang birokrasi, serta menyeimbangkan kepentingan politik dengan tuntutan profesionalisme pemerintahan.
Retret kepala daerah yang digelar di tingkat nasional turut memberi warna. Pesannya jelas: sinkronisasi pusat–daerah, disiplin fiskal, dan kehati-hatian dalam menjalankan pemerintahan. Namun pesan ini juga membawa konsekuensi: ruang gerak daerah semakin terbatas, sementara ekspektasi publik tetap tinggi.
Dalam konteks ini, 2025 bukan tahun “ngegas”. Ia lebih ke konsolidasi internal, dan penyesuaian arah. Di sinilah ujian awal kepemimpinan dimulai, ketika kekuasaan mulai diuji bukan oleh kompetisi, melainkan oleh kemampuan mengelola keterbatasan anggaran.
Janji Kampanye di Tengah Efisiensi Anggaran
Janji kampanye menjadi ujian paling nyata di 2025. Efisiensi anggaran dan pemotongan transfer dari pusat memaksa kepala daerah melakukan prioritisasi ketat. Tidak semua janji bisa diwujudkan sekaligus. Masalahnya, publik tidak selalu menerima alasan fiskal. Bagi masyarakat, janji adalah komitmen politik, bukan catatan kaki dalam APBD. Di sinilah kepemimpinan diuji: memilih program yang paling berdampak, berani menunda yang populis, dan jujur menjelaskan keterbatasan.
Tata Kelola Pemerintahan Baru: Antara Konsolidasi dan Persepsi Lamban
Selain efisiensi anggaran, perombakan pejabat eselon II menjadi salah satu dinamika politik birokrasi paling mencolok di awal pemerintahan baru. Bongkar-pasang jabatan, rotasi, dan penyesuaian struktur berlangsung intens, memunculkan spekulasi, dukungan, sekaligus terdapat intrik skandal surat pengunduran diri fiktif.
Di satu sisi, publik memahami bahwa pemerintahan baru membutuhkan waktu untuk konsolidasi internal. Tidak realistis berharap hasil instan di tahun pertama. Namun di sisi lain, proses ini juga menimbulkan persepsi bahwa pembangunan berjalan lambat, terlebih ketika dikombinasikan dengan kebijakan efisiensi dan pemotongan anggaran dari pusat.
Tantangan terbesar kepala daerah bukan sekadar menata birokrasi, tetapi mengelola persepsi publik. Dalam era keterbukaan informasi, diam sering kali diterjemahkan sebagai tidak bekerja. Di sinilah komunikasi politik menjadi sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri.
Efek “KDM”: Standar Baru dalam Menilai Kepala Daerah
Fenomena viralnya Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menjadi faktor eksternal yang tak bisa diabaikan. Gaya kepemimpinan yang cepat, transparan, dan komunikatif menciptakan standar baru dalam benak publik—termasuk di Jambi.
Masyarakat kini lebih berani membandingkan. Mereka melihat bahwa seorang kepala daerah bisa “sat set”, turun langsung, membuka data, dan berbicara apa adanya. Perbandingan ini bukan untuk meniru secara mentah, melainkan untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah tidak lagi bisa berlindung di balik alasan prosedural semata.
Efek KDM membuat publik Jambi semakin kritis. Mereka tidak hanya menunggu hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses, kecepatan respons, dan keberanian mengambil keputusan.
Infrastruktur, Tata Ruang, dan Konflik yang Tak Kunjung Usai
Isu infrastruktur kembali menjadi panggung utama politik Jambi. Peresmian ruas Tol Sebapo–Pijoan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) memberi harapan baru soal konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, polemik lama belum benar-benar terselesaikan.
Jalan khusus batu bara masih menjadi sumber ketegangan. Konflik kepentingan antara industri ekstraktif, masyarakat, dan pemerintah daerah terus berulang. Di banyak tempat, persoalan ini beririsan dengan konflik agraria yang telah menahun—lahan tumpang tindih, klaim adat yang tak kunjung tuntas, serta masyarakat yang berada di posisi paling rentan.
Sepanjang 2025, publik kembali disadarkan bahwa pembangunan infrastruktur tanpa tata ruang yang adil hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Seperti polemik pembangunan jambi business center (JBC) dan masalah stockpile batu bara yang memicu gelombang demonstrasi besar-besaran karena letaknya dianggap terlalu dekat dengan pemukiman warga.
Demonstrasi dan Anarki
Gelombang demonstrasi sepanjang 2025 bermula dari akumulasi kekecewaan publik yang dipicu oleh isu-isu sosial di daerah, salah satunya di Pati, lalu membesar di tingkat nasional. Ketegangan meningkat setelah muncul pernyataan sejumlah anggota DPR RI yang dinilai minim empati terhadap kondisi rakyat yang sedang sulit, di tengah sorotan publik terhadap tunjangan dan fasilitas pejabat yang dianggap berlebihan. Jurang empati antara elite dan rakyat kian terasa, memicu kemarahan yang menemukan salurannya di jalanan.
Efeknya menjalar hingga ke daerah, termasuk Jambi. Aksi yang pada awalnya berlangsung tertib dan terukur perlahan berubah menjadi ricuh. Di berbagai daerah, gedung-gedung pemerintahan dirusak, dan di Jambi sendiri terjadi perusakan Gedung DPRD dan fasilitas publik. Banyak pihak menilai eskalasi ini tidak sepenuhnya lahir dari mahasiswa, melainkan akibat aksi yang mulai disusupi sehingga berubah menjadi anarkis.
Peristiwa ini menjadi penanda penting bahwa ketika saluran aspirasi formal tidak lagi dipercaya, demokrasi jalanan kembali muncul—dengan risiko yang harus ditanggung bersama.
Partai Politik: Musda, Konsolidasi, dan Pendidikan Politik
Dinamika partai politik tetap mewarnai 2025. Musda Golkar dan PDI Perjuangan menjadi arena konsolidasi internal, sementara PAN menonjol dengan agenda pendidikan politik kaum muda.
Di internal Partai Golkar, Musda menetapkan Cek Endra sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jambi. Terpilihnya mantan kepala daerah ini mencerminkan kecenderungan partai-partai besar untuk kembali mengandalkan figur berpengalaman, dengan harapan mampu menjaga soliditas internal sekaligus memperkuat posisi politik Golkar di Jambi pasca-Pilkada.
Sementara itu, PDI Perjuangan melalui Musda juga menetapkan Edi Purwanto sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jambi. Konsolidasi PDIP berlangsung dalam semangat menjaga kesinambungan ideologis partai, sekaligus mempersiapkan mesin organisasi menghadapi agenda-agenda politik ke depan, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Budaya dan Sejarah: Candi Muaro Jambi Bangkit
Salah satu catatan positif 2025 datang dari sektor budaya dan sejarah. Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi diresmikan kembali dengan museum dan tata kelola yang lebih baik.
Ini bukan sekadar proyek budaya, melainkan simbol arah pembangunan alternatif: berbasis sejarah, identitas, dan keberlanjutan. Tantangannya, tentu, memastikan pengelolaan ini konsisten dan tidak berhenti pada seremoni.
Penghargaan Daerah: Prestasi Nyata atau Pencitraan?
Sepanjang 2025, sejumlah pemerintah daerah di Provinsi Jambi tercatat menerima berbagai penghargaan nasional diberagam sektor—mulai dari tata kelola pemerintahan, budaya dan pariwisata, keterbukaan informasi publik, hingga inovasi daerah.
Di satu sisi, capaian ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja birokrasi. Namun di sisi lain, ia juga memunculkan pertanyaan kritis: sejauh mana penghargaan tersebut benar-benar berdampak bagi masyarakat?
Penghargaan-penghargaan ini penting sebagai indikator administratif dan motivasi kelembagaan. Namun masyarakat kini semakin kritis. Pertanyaannya bukan lagi “berapa penghargaan yang diraih”, melainkan “apa perubahan yang dirasakan”. Apakah layanan publik lebih cepat? Apakah lingkungan lebih tertata? Apakah kesejahteraan masyarakat meningkat?
Dalam konteks politik 2025, penghargaan daerah tidak bisa lagi berdiri sendiri sebagai alat pencitraan. Ia harus dibaca secara jujur dan proporsional: sebagai capaian yang perlu diuji dampaknya. Tanpa itu, plakat dan sertifikat hanya akan menjadi simbol elite, jauh dari denyut kehidupan warga yang seharusnya menjadi tujuan utama pemerintahan.
Penutup: Tahun Konsolidasi dan Ujian Kepercayaan
Catatan ini diharapkan menjadi jejak ingatan bersama, agar suatu hari nanti, ketika publik menoleh ke belakang, pada tahun 2025 mencatat bagaimana politik daerah dijalani dalam satu tahun penuh keterbatasan, konsolidasi, dan perubahan cara pandang public yang kian sadar perannya sebagai penilai utama kekuasaan.
_____
Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Univ. Jambi & Direktur Pusat Kajian Demokrasi dan Kebangsaan (Pusakademia)




